Serial Detektif Robert Langdon : Digital Fortress

SEDAN VOLVO milik Susan berhenti di bawah bayangan pagar Cyclone yang menjulang setinggi sepuluh kaki dan berkawat duri.

“Tolong identitas Anda.”

Susan menuruti petugas itu dan bersabar menunggu selama setengah menit. Petugas tersebut memeriksa kartu Susan dengan alat pembaca di komputernya. Akhirnya, petugas itu selesai. “Terima kasih, Ms. Fletcher.” Pria itu tersenyum samar dan pintu gerbang pun terbuka.

Setengah mil kemudian, Susan mengulangi prosedur yang sama di depan pagar berarus listrik. Ayo dong … Aku kan sudah jutaan kalike sini.

Ketika Susan mendekati pos pemeriksaan terakhir, seorang penjaga kekar dengan dua ekor anjing penjaga dan sebuah senapan mesin melihat plat nomor mobilnya dan mengisyaratkan wanita itu untuk lewat. Susan menelusuri jalan Canine sejauh 250 yard dan melaju ke Kawasan Karyawan C. Tidak bisa dipercaya, pikir Susan. Dua puiuh enam ribu karyawan dan dana sebesar 12 miliar dolar. Orang-orang pasti mengira perusahaan ini bisa melewati akhir pekan ini tanpa aku. Susan mengarahkan mobilnya ke tempat parkir pribadinya dan mematikan mesin.

Setelah melintasi teras yang bertaman dan memasuki gedung utama, Susan melewati dua pos pemeriksaan internal lagi. Dia akhirnya sampai pada lorong tidak berjendela yang mengarah ke sayap baru. Sebuah kotak tempat mesin pembaca suara menghalangi jalannya.

NATIONAL SECURITY AGENCY (NSA) Agensi Keamanan Nasional FASILITAS CRYPTO HANYA BAGI YANG BERKEPENTINGAN

Seorang penjaga bersenjata menyapa Susan, “Selamat sore, Ms. Fletcher.”

Susan tersenyum lelah, “Hai, John.”

“Saya kira Anda tidak masuk hari ini.”

“Ya, saya juga.” Susan bersandar ke depan sebuah mikropon berbentuk parabola.

“Susan Fletcher,” ucap Susan dengan jelas. Sebuah komputer dengan cepat mengkonfirmasikan tingkat konsentrasi frekuensi suara wanita itu dan pintu pun terbuka. Susan melangkah masuk.

SI PENJAGA mengagumi Susan saat wanita itu berjalan di atas lintasan semen. Penjaga itu memerhatikan bahwa mata Susan yang cokelat kekuningan dan tajam terasa begitu jauh hari ini, tetapi pipinya bersemu segar dan rambut sebahunya yang berwarna cokelat kemerahan tampak baru saja dikeringkan. Bau lembut bedak bayi Johnson mengikuti langkahnya. Mata si penjaga beralih ke badan Susan yang ramping—ke blus putihnya dengan BH yang samar-samar terlihat, ke- mudian ke rok selututnya yang berwarna cokelat muda, dan akhirnya ke arah kakinya … kaki Susan Fletcher.

Sulit membayangkan kaki-kaki itu menyangga IQ sebesar 170, pikir si penjaga.

Penjaga itu menatap Susan cukup lama. Akhirnya, pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya saat wanita genius itu menghilang di kejauhan.

KETIKA SUSAN sampai di ujung lorong itu, sebuah pintu bundar yang mirip pintu lemari besi menghalangi jalannya. Pada pintu itu ada huruf-huruf besar: CRVPTO.

Sambil mendesah, Susan meletakkan tangannya pada kotak sandi rahasia di dalam ceruk dan memasukkan lima angka PIN. Beberapa detik kemudian, lempengan baja seberat dua belas ton itu mulai berputar. Susan berusaha memusatkan perhatiannya, tetapi pikirannya selalu kembali pada pria itu.

David Becker. Satu-satunya pria yang dia cintai. Sebagai profesor termuda di Universitas Georgetown dan ahli bahasa asing yang cemerlang, Becker hampir menyerupai seorang selebriti di bidang pendidikan. Lahir dengan kemampuan mengingat yang baik dan kegemaran akan bahasa, Becker menguasai enam dialek Asia dan juga bahasa Spanyol, Prancis, dan Italia. Karena padatnya peminat, para mahasiswa harus mengikuti kuliahnya tentang asal-usul kata dan ilmu bahasa sambil berdiri. Kadang-kadang dia pulang lebih lambat untuk menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi. Dia berbicara dengan penuh wibawa dan semangat. Kelihatannya dia tidak sadar akan pandangan kagum mahasiswinya. 

David Becker berkulit gelap—seorang pemuda berperawakan keras, bermata hijau tajam, dan berotak cerdas. Rahangnya kokoh dan penampilannya tegap, mengingatkan Susan pada pahatan marmer. Dengan tinggi enam kaki, David Becker bergerak di atas lapangan squash lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh para koleganya. Setelah menang telak atas lawannya, biasanya Becker membasahi kepalanya yang berjambul tebal dan berambut hitam di pancuran air minum. Dengan kepala yang masih basah dan menetes, David Becker biasanya mentraktir lawannya segelas jus buah dan sepotong roti bagel.

Sebagaimana para profesor muda lainnya, penghasilan Becker cukup lumayan. Kadangkadang, jika dia harus  memperbaharui keanggotaan di klub squash-nya atau mengganti senar raket Dunlop tuanya, dia mencari penghasilan tambahan dengan bekerja untuk badan-badan pemerintahan di dalam dan sekitar Washington sebagai penerjemah. Pada salah satu kesempatan tersebutlah dia bertemu dengan Susan.

Pada suatu pagi yang dingin selama liburan musim gugur, Becker baru saja lari pagi dan kembali ke apartemen dinasnya yang memiliki tiga kamar. Dia mendapati mesin penjawabnya sedang berkedip. Dia menenggak lebih dari satu liter jus jeruk sambil mendengarkan rekaman mesin penjawabnya. Pesan itu sama dengan kebanyakan pesan yang dia terima—sebuah badan pemerintahan meminta jasa penterjemahannya untuk beberapa jam pada pagi itu. Satu-satunya hal yang ganjil adalah, Becker tidak pernah tahu tentang badan itu sebelumnya.

“Mereka bernama National Security Agency,” kata Becker ketika menelepon beberapa koleganya untuk informasi lebih jauh. 

Jawabannya selalu sama. “Maksudmu National Secu-rity Councii?”

Becker memeriksa pesannya. “Bukan. Mereka bilang Agency, NSA.”

“Tidak pernah dengar tuh.”

Becker memeriksa daftar petunjuk GAO, tetapi tidak bisa menemukan apa-apa. Karena bingung, Becker menelepon salah seorang teman main squash-r\ya, bekas analis politik yang sekarang bekerja sebagai petugas riset di perpustakaan Kongres. David Becker terkejut mendengar penjelasan temannya itu.

Kelihatannya, NSA bukan saja ada, tetapi bahkan dianggap sebagai satu dari banyak organisasi pemerintah yang paling berpengaruh di seluruh dunia. NSA mengumpulkan data intelijen elektronik dari seluruh dunia dan melindungi informasi rahasia milik Amerika Serikat selama lebih dari separuh abad. Hanya tiga persen dari penduduk Amerika yang sadar akan keberadaan agensi tersebut.

“NSA,” kelakar temannya, “berarti ‘No Such Agency (tidak ada agensi seperti itu).”

Dengan perasaan campur aduk antara was-was dan penasaran, Becker menerima tawaran dari agensi misterius tersebut. Dia mengendarai mobilnya sejauh 37 mil ke kantor pusat agensi itu yang luasnya mencapai 86 hektar dan tersembunyi di hutan di perbukitan Fort Meade, Maryland. Setelah melewati serangkaian pos pemeriksaan dan diberi kartu tamu hologram yang berlaku untuk enam jam, dia dikawal ke sebuah fasilitas riset yang mewah. Dia diberi tahu bahwa di tempat itulah dirinya akan menghabiskan siang itu untuk memberikan bimbingan bagi Divisi Kriptografi—sebuah kelompok elite yang terdiri atas jagojago matematika yang lebih dikenal sebagai para kriptografer atau ahli pemecah sandi.

Untuk satu jam pertama, para kriptografer seolah tidak menyadari kehadiran Becker.

Mereka hilir mudik di sekeliling sebuah meja besar dan berbicara dalam bahasa yang tidak pernah didengar oleh Becker. Mereka berbicara tentang Urutan Sandi, Generator Pengurangan Otomatis, Kantung-kantung Varian, Protokol Pengetahuan Nol, Titik-titik Persekutuan. Becker berusaha memerhatikan dan akhirnya malah menjadi bingung. Para kriptografer itu mencoret simbol-simbol di atas kertas grafis, mempelajari hasil cetakan komputer, dan secara terus-menerus mengacu pada teks acak pada tampilan proyektor.

JHDJA3JKHD HMA DO/ER TWTJL+JGJ328

SJHALSFNHKHHHFAFOHHDFGAF/FJ37WE

OHI9345DS9DJFD 2H/HHRTV FHLF893D3

9SJSP JF2JD89D IHJ9 8VHFID8DEWR TD3

JOJR845HD ROQ+JT0EU4TQEFQE//OUJW

08UVDIHD934J TPW FIA JER09QU4JR9GU

IVJP$DUW4H95PE8 RTUGVJW 3P4E/IKKC

MFFUERHFGV0Q394IKJRMG+UNHVS9OER

IRK/D9S6V7 UDPOI KI0JP9F8760QWERQI

Akhirnya, salah seorang kriptografer menjelaskan apa yang telah diperkirakan Becker.

Teks acak tersebut adalah sebuah sandi-“sebuah teks sandi”—kumpulan angka dan huruf yang mewakili kata-kata rahasia. Tugas para kriptografer itu adalah mempelajari sandi tersebut untuk mendapatkan teks asli atau “teks jelas”. NSA memanggil Becker karena mereka curiga teks asli itu ditulis dalam bahasa Mandarin. Becker diminta untuk menerjemahkan simbol-simbol itu setelah para ahli sandi itu selesai menguraikannya.

The Da Vinci Code