Serial Detektif Robert Langdon : Deception Point

MENYEBUT DIREKTUR NRO sebagai lelaki sederhana saja sudah berlebihan. Direktur NRO, William Pickering, adalah seorang lelaki bertubuh kecil, berkulit pucat, berwajah biasa-biasa saja sehingga mudah untuk dilupakan, botak, dan mata berwarna kecoklatan, yang walaupun sedang melihat rahasia-rahasia negara yang paling dalam sekalipun tampak seperti sepasang kolam dangkal saja. Walau begitu, siapa saja yang bekerja di bawah Pickering san gat menghormatinya.

Kepribadiannya yang tenang dan filosofi-filosofi sederhananya sangat melegenda di NRO. Ketekunan yang tenang dari lelaki itu, di-gabungkan dengan pakaiannya yang hanya jas hitam sederhana, membuatnya mendapat julukan “the Quaker.” Sebagai seorang ahli strategi yang pandai dan contoh dari efisiensi, the Quaker mengelola divisinya dengan kejernihan yang tidak ada banding-nya. Mantranya: “Temukan kebenaran dan bertindaklah atas dasar tersebut.”

Ketika Rachel tiba di kantor atasannya, sang direktur sedang berbicara di telepon. Rachel selalu terkejut pada penampilan direkturnya: William Pickering sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang cukup berkuasa untuk membangunkan Presiden pada jam berapa pun.

Pickering meletakkan teleponnya dan melambai ke arah Rachel untuk menyuruhnya masuk. “Agen Sexton, duduklah.” Suaranya terdengar serak namun jernih.

“Terima kasih, Pak.” Rachel lalu duduk.

Walau kebanyakan orang merasa tidak nyaman berada di dekat William Pickering yang senang bersikap blak-blakan, Rachel sejak dulu selalu menyukai bosnya ini. Lelaki ini betulbetul merupakan kebalikan dari ayahnya … secara fisik tidak mengagumkan, sama sekali tidak karismatik, melaksanakan kewajibannya dengan semangat patriotisme yang tidak mementingkan diri sendiri, dan menghindari sorotan media yang sangat dicintai ayah Rachel.

Pickering melepas kacamatanya dan menatapnya. “Agen Sexton, kira-kira setengah jam lalu Presiden meneleponku. Dia menyebutmu secara langsung.”

Rachel mengubah posisi duduknya. Pickering terkenal tak suka berbasa-basi.

Sungguh sebuah topik pembuka yang hebat, pikir Rachel. “Saya harap bukan karena ada masalah dengan salah satu ringkasan saya.”

“Justru sebaliknya. Presiden berkata, Gedung Putih terkesan dengan pekerjaanmu.”

Rachel menarik napasnya dengan perlahan. “Jadi, apa yang diinginkan Presiden?”

“Bertemu denganmu. Pribadi. Segera.”

Kecemasan Rachel meningkat. “Pertemuan pribadi? Mengenai apa?”

“Pertanyaan yang sangat bagus. Presiden tidak mau menga-takannya padaku.”

Sekarang Rachel merasa bingung. Merahasiakan informasi dari Direktur NRO sama seperti menyembunyikan rahasia Vatikan dari Sri Paus. Lelucon dalam komunit as intelijen adalah seperti ini: jika William Pickering tidak tahu tentang sesuatu, maka sesuatu itu tidak ada.

Pickering berdiri dan berjalan di depan jendelanya. “Presiden memintaku menghubungimu segera dan mengirimmu untuk bertemu dengannya.”

“Sekarang?”

“Presiden sudah mengirim kendaraan … sudah menunggu di luar.”

Rachel mengerutkan keningnya. Permintaan Presiden membuatnya tidak mampu untuk menolaknya, tetapi kesan prihatin di wajah Pickering itulah yang membuatnya khawatir. “Anda pasti merasa keberatan.”

Deception Point