Kisah Putri Mambang Linau (Riau)

Bujang Enok sedang mencari kayu di hutan saat tiba-tiba seekor ular berbisa muncul di hadapannya. Untunglah Bujang Enok sigap. Dia membunuh ular itu sebelum terpatuk.

Dalam perjalanan pulang, Bujang Enok melihat sekelompok wanita sedang bercakap-cakap. “Berkat pemuda itu, kita aman. Tak ada lagi ular berbisa yang membahayakan,” ucap salah satu dari wanita itu.

Bujang Enok pun paham bahwa selama ini ular tersebut sudah meresahkan banyak orang.

Sesampainya di rumah, seperti biasa Bujang Enok menuju ke dapur dan makan. Namun, dia terkejut melihat dapurnya penuh dengan makanan lezat.

Meski beran, Bujang Enok makan dengan lahap. Dalam hati dia berjanji akan menyelidiki siapa yang menyiapkan semua makanan itu.

Keesokan harinya, Bujang Enok mengintip dapurnya. Ternyata, yang menyediakan makanan adalab tujuh wanita cantik. Mereka menyediakan makanan sebagai ucapan terima kasih karena Bujang Enok berhasil membunuh ular berbisa itu.

Bujang Enok terkesima melihat kecantikan mereka. Dia pun jatuh cinta pada salah satu wanita yang berselendang jingga.

ketujuh wanita itu lalu meninggalkan rumah Bujang Enok. Mereka terbang satu per satu ke langit. Rupanya, mereka bukan manusia, melainkan bidadari yang tinggal di kayangan.

Malang bagi wanita berselendang jingga, selendangnya hilang. Dia tak dapat ikut terbang. Dia tak tahu bahwa selendangnya terkait di pintu rumah Bujang Enok. Dia pun menangis ketakutan karena ditinggal sendiri.

Bujang Enok menghampiri wanita itu dan mengembalikan selendangnya.

“Maukah kau tinggal di sini saja? Menikahlah denganku.” Bujang Enok melamar wanita itu.

Setelah terdiam sesaat, wanita itu setuju. Dia menyebutkan bahwa dirinya bernama Putri Mambang Linau.

“Aku mau menikahi Kanda, tetapi ada syaratnya. Kanda tak boleh menyuruhku untuk menari. Jika aku menari, maka aku akan kembali ke kayangan, tempat aku berasal,” kata wanita itu.

Bujang Enok menyetujui syarat itu. Mereka pun menikah. Hari dewi hari berlalu. Bujang Enok dan Putri Mambang Linau bidup berbahagia. Mereka amat dermawan dan suka menyantuni orang miskin. Lama-kelamaan, sifat baik hati Bujang Enok terdengar sampai ke telinga Raja.

Raja senang bahwa Bujang Enok telah membantunya menyejahterakan rakyat. Untuk membalas jasa Bujang Enok, Raja mengangkatnya menjadi kepala kampung.

Suatu hari, semua kepala kampung diundang menghadiri pesta yang diadakan oleh Raja. Raja juga meminta agar semua istri kepala kampung menari di pestanya.

Bujang Enok gundah, Dia tak ingin membangkang pada Raja, tetapi dia juga sudah berjanji pada istrinya. “Istriku, tolonglah aku. Sekali ini saja,” pintanya pada istrinya.

Putri Mambang Linau tak ingin menyulitkan suaminya. Dia pun menurut dan mempersembahkan tariannya yang terindah. Namun, saat dia sedang menari, tiba-tiba kakinya terangkat dari tanah. Tak lama kemudian, tubuhnya melayang-layang ke udara. Suasana pun jadi gempar, Bujang Enok memandangi istrinya dengan sedih. Rupanya, istrinya harus kembali ke kayangan.

Putri Mambang Linau terbang semakin jauh ke langit. Dia melambaikan tangan tanda perpisahan pada suaminya. Bujang Enok menyesal telah memaksa istrinya. Namun, dia juga tak mau membantah perintah Raja.

Atas kesetiaannya, Raja menjadikan Bujang Enok sebagai penghulu istana. Sampai akhir hayatnya, Bujang Enok mengabdikan diri pada rakyat dan rajanya.