Kisah Pedagang Yang Tamak (India)

Seorang nenek ingin menjual sebuah mangkuk. Mangkuk itu terbuat dari emas, tetapi nenek itu tak mengetahui hal tersebut. Ia menawarkan mangkuk miliknya itu kepada pedagang peralatan rumah tangga.

“Maukah kau membeli mangkukku ini,” tawar si nenek.

Pedagang itu terkejut melihat mangkuk emas milik si nenek, la yakin si nenek tak tahu bahwa mangkuk tersebut terbuat dari emas. Muncul ide licik di benak si pedagang, la hendak menipu si nenek.

“Bagaimana jika aku tukar mangkukmu dengan sendok dan garpu ini?” ujar si Pedagang tamak.

“Maaf, apakah itu tidak terlalu murah?” ucap nenek.

“Kalau kau tidak mau ya sudah, tak apa-apa. Kau boleh pergi dari tokoku,” cetus si pedagang tamak.

Pedagang itu berpikir bahwa si nenek akan kembali lagi dengan mangkuk emasnya. Tetapi, si nenek ternyata menawarkan mangkuk emas itu kepada pedagang lain.

“Apakah kau mau membeli mangkuk milikku? Aku butuh sekali uang,” ucap nenek kepada pedagang lain.

Pedagang itu melihat mangkuk yang dibawa si nenek, la terkejut, sebab tidak menyangka bahwa ternyata mangkuk itu terbuat dari emas.

“Aku tak punya cukup uang untuk membeli mangkukmu, Nek. Bahkan, semua daganganku belumlah cukup untuk ditukar dengan mangkukmu,” ucap si pedagang dengan jujur.

Nenek itu tersenyum mendengar perkataan jujur pedagang tersebut. “Ambillah mangkuk ini. Aku hanya ingin menukarnya dengan beberapa peralatan rumah tangga. Sebentar lagi cucuku akan menikah. Aku ingin menghadiahkan peralatan rumah tangga itu,” jawab si nenek sambil menunjuk beberapa peralatan rumah tangga.

Pedagang itu sangat senang. Matanya berbinar-binar. Lantas ia meminta si nenek untuk mengambil apa pun yang ia
butuhkan di tokonya.

“Terima kasih, kau memang orang yang jujur” ucap si nenek, senang, sambil membawa beberapa peralatan rumah tangga.

“Sama-sama Nek,” jawab pedagang itu tak kalah senangnya.

Si nenek kembali ke rumahnya, la melewati toko si pedagang tamak. Pedagang tamak bingung karena si nenek tampak tidak membawa mangkuk emasnya.

“Di mana mangkukmu, Nek?” tanya si pedagang tamak, penasaran.

“Aku sudah menukarnya dengan perabotan rumah ini,” jawab si nenek sambil menunjukkan beberapa perabotan rumah tangga.

Pedagang yang tamak itu kaget dan sangat menyesal. Andai saja tadi ia menawar dengan harga yang wajar, pasti mangkuk emas itu sudah menjadi miliknya, dan kemudian bisa dijual dengan harga yang tinggi.

Pesan Moral : Ketamakan akan menjauhkan orang dari keberuntungan