Kisah Burung Tempua dan Burung Puyuh (Riau)

Tempua dan Puyuh adalah sepasang sahabat. Selama mereka selalu hidup rukun. Namun, suatu saat sedikit berselisih. Masing-masing menyatakan memiliki sarang yang paling bagus dan nyaman.

“Tentu saja sarangku yang lebih hebat. Aku membuatnya selama berminggu-minggu dengan cara menjalin rumput kering dan alang-alang. Sarangku amat kuat!” Tempua memulai pembicaraan.

Puyuh tergelak. “Untuk apa menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuat sarang? Lihatlah sarangku. Aku bahkan tak perlu membuatnya.” Puyuh menunjukkan sarangnya, pohon tumbang yang dijadikan Puyuh sebagai tempat berlindung.

Tempua mencibir. “Itu bukan sarang. Lagi pula, Jika hanya seperti itu, musuh mudah Menangkapmu.”

Puyuh menggeleng. “Tidak. Mereka tak tahu keberadaanku. Aku akan sering berpindah sarang.”

Tempua terdiam sejenak. Dia merasa bahwa sarangnya masih jauh lebih baik daripada sarang Puyuh. Untuk membuktikannya, dia mengajak Puyuh menginap di sarangnya. Dia yakin, Puyuh akan mengakui bahwa sarangnya jauh lebih baik.

Puyuh setuju dan mengikuti Tempua pulang. Saat menuju ke sarang Tempua, Puyuh cukup kelelahan. Maklum saja, selama ini dia tak perlu terbang tinggi untuk kembali ke sarangnya sendiri.

Tak lama kemudian, mereka berdua tidur. Namun, Puyuh gelisah. Dia kehausan. Dia lalu membangunkan Tempua untuk meminta minum. Namun, Tempua tak punya air. Puyuh tak mungkin terbang ke luar untuk mencari air. Suasana di luar gelap gulita, lagi pula sarang itu tinggi sekali. Akhirnya, Puyuh tidur sambil menahan haus.

Beberapa saat kemudian, ada angin kencang bertiup. Pohon tempat sarang Tempua bergoyang-goyang hebat. Puyuh ketakutan.

“Tenang saja. Sarangku kuat, kita tak mungkin jatuh,” hibur Tempua.

Tempua benar. Tak lama kemudian, angin berhenti bertiup. Mereka berdua masih aman di dalam sarang. Namun, Puyuh masih ketakutan. Malam itu dia tak bisa tidur nyenyak.

Keesokan harinya, Puyuh berpamitan pada Tempua. Dia tak mau tinggal di sarang Tempua lagi. Lalu Puyuh menawarkan pada Tempua, “Bagaimana kalau kau juga mencoba tidur di sarangku?” Tempua pun setuju.

Hari sudah malam saat Puyuh dan Tempua menemukan pohon tumbang di dekat sungai.

“Pohon ini amat cocok bagi kita,” seru Puyuh senang. Tempua bingung. “Kita mau tidur di mana?”

Puyuh menunjuk kolong pohon itu. Meski merasa enggan, Tempua pun menuruti ajakan Puyuh. Tengah malam, hujan turun deras. Tempua kedinginan.

“Tak apa-apa. Sebentar lagi hujan reda,” hibur Puyuh. Tempua berusaha tidur. Meski menggigil, dia tak berkata lapa-apa lagi.

Keesokan harinya, Tempua mengeluh pada Puyuh. Badannya demam.

“Aku tak cocok tinggal di sarangmu,” keluhnya.

Akhirnya, baik Tempua maupun Puyuh menyadari bahwa mereka tak bisa memaksakan pendapat mereka tentang kehebatan sarangnya. Mereka pun tak jadi berselisih.