🔊 Audio Baca

Kisah Alibaba dan Gerombolan Penyamun (Iran)

Dahulu kala, di wilayah Persia (Sekarang, Iran), hiduplah orang kakak beradik bernama Kasim dan Alibaba. Kasim, sang kakak, hidup bergelimang harta, namun memiliki sifat serakah dan tidak pernah mau memikirkan kehidupan adiknya. Sedangkan si adik, Alibaba, hidup serba kekurangan dan tinggal di daerah pegunungan. Untuk makan sehari-hari Alibaba harus mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya.

Pada suatu hari, Alibaba pulang dari mencari kayu bakar. Di jalan ia melihat se- gerombol penyamun. “Hah apa itu? Itu adalah para penyamun, aku harus bersembunyi,” ujar Alibaba dalam hati. Ia pun segera bersembunyi di semak-semak karena takut. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya dari kuda mereka. Si pemimpin penyamun berdiri dan berteriak, “Zam alakazam abra kadabra, gua terbukalah.” Dan pintu gua pun terbuka. Dengan segera anak buahnya menurunkan harta rampokan mereka dan memasukkannya dalam gua. Setelah semua harta dimasukkan pemimpin penyamun kembali berteriak “‘‘Zam alakazam abra kadabra, gua tertutuplah.” Dan pintu gua pun menutup sendiri. Lalu mereka semua pergi meninggalkan harta curian mereka.

Merasa aman, Alibaba lalu mendekati pintu gua dan menirukan ucapan kepala penyamun tadi. Betapa kagetnya Alibaba, pintu gua terbuka, ia melihat banyak sekali harta di dalam gua, berupa kepingan uang emas dan barang berharga lainnya. Ia pun berkata, “wow… banyak sekali harta ini, biar aku ambil sedikit, agar aku tidak miskin lagi dan juga untuk membantu tetanggaku yang kesusahan.” Dengan segera Alibaba memasukkan uang-uang itu ke dalam karung yang dibawanya.

Alibaba lalu pulang ke rumah. Istrinya sangat terkejut melihat harta yang dibawa Alibaba. Alibaba pun bercerita pada istrinya dari mana asal uang-uang emas itu. Karena terlalu banyak, uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Mereka kemudian sepakat untuk meminjam kendi timbangan milik saudaranya, Kasim. Alibaba segera pergi ke rumah Kasim untuk meminjam kendi tersebut. “Kak Kasim, bolehkah aku pinjam kendi timbanganmutanya istri Alibaba sesampai di rumah kakaknya. “Hem, boleh saja silahkan bawa kendi timbangan ini ke rumahmu,” jawab Kasim dengan wajah penuh curiga. Sebelumnya Kasim sudah mengoleskan minyak yang sangat lengket dalam dasar kendi, karena ia curiga saat adiknya mau meminjam kendi timbangan harta, padahal ia tahu kalau adiknya ini tidak memiliki harta.

Keesokan harinya Alibaba datang lagi dan mengembalikan kendi timbangan. Betapa kagetnya kasim karena ada uang emas yang menempel di dalam kendi. Karena penasaran kok Adiknya bisa punya uang emas, ia pun bergegas pergi ke rumah Alibaba. Sampai di rumah Alibaba, Kasim segera menanyakan tentang uang emas itu.

Alibaba yang jujur pun menceritakan semuanya pada kakaknya. Setelah itu Kasim pamit, dengan tersenyum ia bilang dalam hati, “hem., harta di gua itu bisa aku sikat habis.” Sampai di rumah, Kasim pun menyiapkan kereta kuda untuk mengangkut harta yang ada di gua. Setelah itu kasim bergegas pergi ke gua yang diceritakan Alibaba.

“Zam alakazam abra kadabra, gua terbukalah,” teriak Kasim sampai di pintu gua. Gua pun terbuka, Kasim segera masuk bersama kereta kudanya dan berteriak lagi “Zam alakazam abra kadabra, gua tertutuplah.” Di dalam gua ia pun memasukkan harta ke kereta kudanya. Setelah keretanya penuh harta, Kasim pun berniat kembali ke rumah. “He.. he… akhirnya harta ini akan menjadi milikku, kekayaanku akan semakin bertambah he he,” ucap Kasim.

Namun saat akan membuka pintu Kasim lupa mantranya, ia pun bingung. Berkali- kali ia mengucapkan mantra tapi salah terus dan pintu tidak bergerak. “Duh bagaimana ini, aku lupa mantranya, bagaimana aku bisa keluar dari sinLduh,” ucap Kasim sambil mengusap keringat di dahinya. Kasim berpikir keras, pada akhirnya ia ingat, “oh iya, aku ingat sekarang, Zam alakazam abra kadabra, gua terbukalah,” teriak Kasim. Dan pintu pun terbuka.

Betapa kagetnya Kasim karena di depan pintu gua sudah ada para penyamun. Para penyamun juga terkejut, salah seorang dari mereka berteriak, “Hei ada maling! Ayo tangkap dan bunuh dia.” Kasim segera lari namun ia tertangkap dan dibawa ke kepala penyamun. Kasim yang ketakutan pun berkata, “Ampun tuan… ampun jangan bunuh saya tuan…” Namun kepala penyamun yang terkenal sangat kejam, tidak memberi ampun kepada Kasim. “Anak buahku, habisi pencuri ini,” suruh kepala penyamun. Anak buah penyamun pun membunuh Kasim dan memotong tubuhnya lalu dimasukkan ke dalam gua.

Di rumah, istri Kasim mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak kunjung pulang. “Duh.. kok suamiku belum pulang-pulang juga ya, ia sudah pergi lama sekali, aku takut terjadi apa-apa padanya,” ujar istri Kasim. Kemudian istri Kasim menemui Alibaba dan menceritakan suaminya yang pergi ke gua dan tak kunjung pulang.

Alibaba yang baik hati juga khawatir mendengar cerita istri kakaknya. Ia takut jika kakaknya bertemu para penyamun di gua. Alibaba segera berlari menuju gua dan benar apa yang dikhawatirkannnya. Sampai di sana ia sangat terkejut karena mendapati tubuh kakaknya sudah terpotong. Alibaba sedih, ia segera membawa tubuh kakaknya ke rumah.

Setibanya di rumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya melihat apa yang sudah terjadi pada suaminya. “Hu…hu..hu.. bagaimana ini, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup jika suamiku sudah tiada, siapa yang akan bekerja mencari uang jika suamiku sudah meninggal,” tangis istri Kasim. Alibaba merasa iba melihat kakak iparnya lalu memberikan sekantung uang emas kepadanya. Mendapat sekantong uang, istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya yang malang. Lalu Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.

Beberapa hari kemudian, para penyamun kembali lagi ke gua, mereka terkejut karena mayat Kasim sudah tidak ada lagi. “Hey di mana mayat pencuri kemarin, kenapa tidak ada, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita segera cari dia dan bunuh dia!,” kata sang kepala penyamun. Gerombolan penyamun segera berpencar dan mulai berkeliling ke pelosok kota.

Salah seorang penyamun itu kemudian sampai pada tukang sepatu, ia pun bertanya kepada tukang sepatu itu. “Hey, tukang sol sepatu, apakah kau tahu jika akhir-akhir ini ada orang yang kaya mendadak di wilayah ini? Tanpa ragu tukang sol menjawa, “Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang terpotong, aku menjadi orang kaya.” “Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?,” tanya penyamun. “Beritahu aku di mana rumahnya, nanti kau akan mendapatkan upah yang setimpal.”

Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu memberi tahu alamat rumah Alibaba. Si penyamun segera memberi tanda silang di pintu rumah Alibaba. “Aku akan melaporkan pada ketua, dan nanti kami akan datang untuk membunuhnya,” kata si penyamun.

Kemudian penyamun itu menemui ketuanya yang juga sedang berkeliling. “Ketua, aku sudah menemukan orang yang mencuri harta kita, dia bernama Alibaba, rumahnya sudah aku intai dan aku tandai, ayo kita habisi si Alibaba itu,” kata si penyamun. “Tunggu dulu, jangan-jangan ada orang lain lagi yang tahu rahasia kita, biarlah aku saja yang nanti ke sana, aku akan menyamar menjadi pedagang minyak dan menginap di rumahnya. Aku akan pastikan apakah ada orang lain lagi yang tahu tempat harta kita, setelah itu aku akan menghabisinya,” jawab ketua penyamun. “Sekarang mari kita ke markas dan mempersiapkan semuanya,” lanjut ketua penyamun. “Baiklah ketua,” jawab para penyamun mematuhi perintah ketuanya.

Ternyata pembicaraan para penyamun itu tidak sengaja terdengar oleh tetangga Alibaba yang kerap dibantu Alibaba. Si tetangga itu pun berpikir keras bagaimana cara menolong Alibaba.

Malam harinya, Alibaba didatangi seorang kepala penyamun yang menyamar menjadi seorang pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari di rumahnya. Alibaba yang baik hati mempersilahkan tamunya masuk dan mem­perlakukannya dengan baik. Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun.

Tetangga Alibaba yang mendegar percakapan penyamun tadi mengintai apa yang terjadi di rumah Alibaba dari jauh. Ia mengenali wajah kepala penyamun tersebut. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu Alibaba jika tamunya itu adalah kepala penyamun yang menyamar.

Tetangga Alibaba kemudian punya ide, ia menyamar sebagai seorang penari. Ia pergi ke rumah Alibaba untuk menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang asik menonton tarian, tetangga Alibaba dengan cepat melemparkan pedang kecil yang sudah ia selipkannya di bajunya ke dada tamu Alibaba. Seketika itu juga kepala penyamun yang menyamar tewas.

Alibaba dan istrinya kaget, “Hey penari, apa yang sudah kau lakukan, kenapa kau membunuh tamuku,” gertak Alibaba. Tetangga Alibaba itu segera membuka samarannya dan memberitahu bahwa pedagang itu sebenarnya adalah kepala penyamun. Akhirnya Alibaba dan istrinya paham, ia pun berterima kasih kepada tetangganya itu karena sudah menyelamatkan hidupnya.

Setelah semuanya berlalu, Alibaba kemudian membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang yang tidak mampu.

Original Article