Serial Detektif Sherlock Holmes : Petualangan Tiga Mahasiswa

Waktu itu tahun 1985. Berbagai peristiwa dan bermacam-macam situasi akhirnya membawa kami ke sebuah kota tempat terdapat beberapa universitas besar. Kami tinggal di situ selama beberapa minggu, dan ketika itulah telah terjadi suatu peristiwa yang melibatkan· kami dalam petualangan kecil yang telah memberi pelajaran kepada kami. Petualangan inilah yang ingin kukisahkan sekarang. Jelas sekali bahwa akan lebih bijaksana dan lebih baik kalau aku tak mengatakan di universitas mana tempat kejadiannya dan siapa pelaku kejahatan dalam kisah ini. Skandal yang sangat menyakitkan hati ini biarlah terkubur selamanya. Tetapi, peristiwanya sendiri pantas dikisahkan -walau harus dengan sangat hati-hati– karena di sini Holmes telah menunjukkan kehebatannya dengan sangat mengagumkan. Maka dalam menuliskan kisah berikut ini aku berusaha keras membatasi beberapa hal, sehingga nama tempat dan nama orang-orang yang terlibat tak akan bisa dilacak oleh para pembaca. Selama di kota itu kami tinggal di sebuah kamar sewaan· yang letaknya tak jauh dari perpustakaan. Di perpustakaan itu Sherlock Holmes sedang mencari beberapa bahan untuk sebuah riset yang rumit tentang anggaran dasar pemerintah Inggris yang mula-mula -riset yang ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa sehingga pantas untuk kujadikan artikel tersendiri.

Nah, pada suatu malam seorang kenalan kami, Mr. Hilton Soames, berkunjung ke tempat kami. Dia adalah dosen yang mengajar di Universitas St.Luke’s. Tubuh Mr. Soames jangkung, kurus, dan temperamennya sangat penggugup dan emosional. Sepanjang pengetahuanku, sikapnya memang tak pemah tenang, tapi malam ini dia dalam keadaan yang sangat gelisah sehingga tak terkendalikan lagi. pastilah telah terjadi sesuatu yang luar biasa terhadap dirinya.

“Saya yakin, Mr. Holmes, Anda tak keberatan bila saya mengganggu waktu Anda selama beberapa jam. Kami baru saja mengalami kejadian yang sangat memprihatinkan hati di Universitas St.Luke’s, dan sungguh kami sangat beruntung karena Anda kebetulan berada di kota ini. Kalau tidak, entah apa yang harus saya lakukan.”

“Saya sedang sangat sibuk saat ini, dan sebenarnya saya tak ingin diganggu,” jawab temanku.

“Bagaimana kalau Anda lapor ke polisi saja?”

“Tidak, tidak, sir; tak mungkin saya melakukan itu. Begitu hukum ikut campur, hal ini tak mungkin disembunyikan lagi, sedangkan publik tak boleh tahu tentang skandal ini demi nama baik Universitas. Sebagaimana kehebatan Anda, sikap Anda yang bisa dipercaya juga sudah sangat termasyhur ke mana-mana, dan Andalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menolong saya. Jadi saya mohon, Mr. Holmes, kiranya Anda berkenan membantu saya sebisanya. “

Suasana hati temanku belum membaik sejak dia meninggalkan tempat tinggal tercintanya di Baker Street. Tak ada buku-buku catatannya di sini, juga peralatan-peralatan kimianya. Semuanya rapi di kamar sewaan kami ini dan dia malah tidak menyukainya. Dia mengangkat bahunya dengan sikap terpaksa, sementara tamu kami buru-buru mulai bercerita dengan penuh emosi.

“Saya harus menjelaskan kepada Anda, Mr. Holmes. Bahwa besok pagi akan dimulai ujian saringan bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendapatkan Beasiswa Fortescue. Saya akan menjadi salah satu dosen yang mengawasi ujian Itu. Saya mengajar bahasa Yunani, dan mata kuliah pertama yang diujikan ialah menerjemahkan sebuah naskah berbahasa Yunani yang belum pemah diketahui oleh para mahasiswa. Naskah ini dicetak di kertas ujian, jadi kalau sarnpai para mahasiswa mengetahui naskah itu sebelum ujian, pastilah akan menguntungkan mereka karena mereka bisa mengerjakannya sebelum ujian tiba. Karena itu, panitia ujian sangat berhati-hati agar soal itu tidak bocor.

Pada jam tiga tadi, ketikan asli soal ujian sudah kami terima dari bagian cetak. Soal terjemahan saya berupa separo bab dari naskah sastra berjudul Thucydides. Saya harus mengoreksi hasil cetakan itu dengan saksama, karena tak boleh ada salah cetak dalam naskah soal itu. Pada jam setengah lima, saya belum juga selesai mengoreksi naskah soal itu. Tapi saya ada janji minum teh saya pun meninggalkan berkas naskah soal ujian itu di meja kerja saya. Saya pergi selama lebih dari satu jam.

“Anda kan tahu, Mr. Holmes, bahwa pintu-pintu ruangan di universitas kami selalu rangkap dua -satu di bagian dalam, yang berwama hijau, dan satunya lagi di bagian luar yang terbuat dari kayu pohon ek. Ketika saya sampai ke pintu luar ruangan saya, saya terkejut melihat kunci tergantung di situ. Untuk sesaat saya sempat berpikir bahwa saya sendirilah yang tadi meninggalkan kunci itu, tapi ketika saya merogoh saku celana, ternyata kunci saya ada di situ. Sepanjang pengetahuan saya, hanya ada satu kunci duplikat pintu itu, yaitu yang dibawa oleh pelayan saya yang bernama Bannister. Bannister telah bekerja selama sepuluh tahun di tempat saya, dan tugasnya adalah membersihkan ruangan. Dia orang yang bisa dipercaya, dan tak mungkin rasanya saya mencurigai dia. Tapi kunci itu memang kunci yang biasa dipegang olehnya, dan dia mengatakan bahwa dia memang tadi masuk ke ruangan saya untuk menawarkan teh. Karena keteledorannya, dia lupa mengambil kunci itu kembali ketika keluar dari ruangan saya.

Masuknya ke ruangan saya itu pastilah tak lama setelah saya pergi. Kalau saja keteledorannya itu terjadi pada hari lain, tentulah akibatnya tidak runyam begini.

9.Petualangan 3 pelajar_