Serial Detektif Sherlock Holmes : Penyewa Kamar Berkerudung

“Kasus ini sempat membuatku kuatir, Watson. Coba lihat catatan-catatan kecilku. Kuakui waktu itu aku tak bisa berbuat apa-apa, tapi aku yakin petugas penyidiknya telah membuat kesalahan. Kau tak ingat tragedi Abbas Parva?”

“Tak bisakah kauberikan detailnya?”

“Gampang. Kau mungkin akan teringat kalau aku membicarakannya. Ronder orang yang termasyhur di seluruh dunia. Dia saingan berat Wombwell dan Sanger, bintang-bintang pertunjukan pada zaman itu. Sayang sekali si Ronder belakangan suka mabuk-mabukan, sehingga bintangnya mulai pudar, bahkan sirkus yang dipimpinnya nyaris bangkrut. Begitulah keadaannya saat tragedi itu terjadi. Malam itu, karavan yang ditumpanginya
berhenti di Abbas Parva, desa di Berkshire. Rombongan itu sedang menuju Wimbledon melalui jalan darat, dan mereka lalu berkemah. Mereka tidak mengadakan pertunjukan, karena menggelar pertunjukan di desa sekecil itu pastilah tidak menguntungkan.

“Di antara bawaan mereka, ada seekor singa Afrika Utara yang sangat bagus. Raja Sahara namanya. Ronder dan istrinya biasanya memimpin pertunjukan Raja Sahara di dalam jeruji besi. Coba lihat, ini foto mereka ketika sedang beraksi. Ronder gemuk seperti babi sedang istrinya cantik jelita. Dijelaskan dalam penyidikan bahwa terlihat tanda-tanda betapa berbahayanya singa itu, tapi itu dianggap biasa dan sama sekali tidak dipertimbangkan.

“Ronder atau istrinya biasa memberi makan sang singa pada malam hari. Kadang-kadang hanya salah satu dari mereka, kadang-kadang berdua, tapi mereka tak pernah mengizinkan orang lain melakukannya. Mereka percaya bila hanya mereka yang selalu membawakan makanannya, singa itu akan mengerti merekalah yang berbaik hati padanya, sehingga dia tak akan mencederai mereka. Pada malam itu, tujuh tahun yang lalu, mereka berdua pergi untuk memberi makan Raja Sahara, kemudian terjadilah peristiwa mengerikan yang detailnya tak pernah dijelaskan dengan tuntas.

“Tampaknya, menjelang tengah malam, semua anggota rombongan dikejutkan oleh raungan singa yang berbaur dengan teriakan wanita. Mereka berlari keluar dari tenda masing-masing sambil membawa lampu senter dan tampaklah pemandangan yang sangat mengerikan. Ronder terkapar di tanah sekitar sepuluh meter dari kandang singa dengan kulit kepala bagian belakang menganga oleh bekas cakaran binatang buas itu. Kandang itu dalam keadaan terbuka. Di dekat pintu kandang, Mrs. Ronder tertelentang sementara binatang itu masih menggeram-geram di atasnya. Binatang itu telah merobek-robek wajahnya sedemikian rupa sehingga orang berpikir wanita itu pasti sudah tewas. Beberapa anggota rombongan sirkus itu, dipimpin Leonardo, si Orang Kuat, dan Griggs, si Badut, mengusir singa itu dengan memakai tongkat panjang. Singa itu berbalik lalu melompat masuk ke kandangnya, yang dengan cepat dikunci dari luar. Bagaimana sampai singa itu bisa keluar dari kandangnya tetap menjadi misteri. Ada dugaan bahwa ketika mereka membuka pintu kandang untuk masuk, sang singa langsung menyerbu mereka. Tak ada bukti lain yang menarik perhatian, kecuali bahwa ketika orang-orang mengangkatnya kembali ke karavannya, wanita itu berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ‘Penakut! Penakut!’ Enam bulan kemudian barulah wanita itu sembuh dan cukup kuat untuk memberikan kesaksian, tapi penyidikan telah dinyatakan selesai, dengan keputusan bahwa kematian Ronder semata mata karena musibah.”

“Apakah menurutmu ada kemungkinan lain?” tanyaku.

“Bisa dikatakan demikian, karena ada satu-dua hal yang dicemaskan polisi Berkshire bernama Edmunds yang masih muda belia. Pemuda yang pintar! Dia sempat mampir ke tempatku dan menceritakan semuanya.”

“Pemuda kurus berambut pirang itu?”

“Tepat sekali. Aku yakin kau akhirnya bisa mengingatnya.”

“Apa yang dicemaskannya?”

Well, kami berdua cemas waktu itu. Masalahnya, kasus itu sulit direkonstruksi. Bayangkan singa itu! Dia keluar dari kandangnya. Lalu apa yang dilakukannya? Dia melompat ke depan, mendekati Ronder. Ronder berbalik dan berusaha melarikan diri—bekas cakaran binatang itu terdapat di belakang kepalanya—tapi si singa berhasil merobohkannya. Lalu, bukannya terus melarikan diri menjauhi tempat itu, singa itu malah berbalik ke arah sang wanita yang sedang berdiri di dekat kandang. Dia menyerangnya, dan mencabik-cabik wajahnya. Dan kita ingat teriakan histeris wanita itu, yang seolah-olah menyalahkan suaminya. Tapi apa yang bisa dilakukan Ronder untuk menolong istrinya, sementara dia sendiri terluka? Kaulihat kerumitannya, bukan?”

Penyewa Kamar Berkerudung