Serial Detektif Sherlock Holmes : Kaca Mata Berwarna Keemasan

Pada suatu malam menjelang akhir bulan November, cuaca di luar sangat buruk dan angin bertiup kencang. Kami berdua, aku dan Holmes, duduk bersama dalam diam sepanjang malam itu. Dengan pertolongan kaca pembesarnya dia mencoba membaca tulisan-tulisan yang masih bisa terlihat dari sebuah dokumen kuno yang rumit. Sedangkan aku sendiri asyik membaca laporan dan komentar ilmiah tentang sebuah terobosan di bidang pembedahan yang baru-baru ini dilakukan. Di luar sana, di Baker Street, angin menderu kencang dan hujan turun dengan lebat sehingga mengempas-empas kaca jendela. Kami merasa aneh karena berada tepat di tengah-tengah kota, dengan macam-macam kesibukan manusia di sekeliling tempat kami berada, tapi seakan terpenjara oleh alam yang sedang bergolak tanpa kami mampu berbuat apa-apa. Kami jadi menyadari bahwa kalau sudah begini, segenap penduduk kota London ini tak lebih bagaikan tikus-tikus yang mendekam di dalam sarangnya. Aku berjalan mendekati jendela dan memandang ke luar, ke jalanan yang sunyi senyap. Kadang-kadang nampak sinar lampu di jalanan yang berlumpur dan di trotoar yang berkilauan. Sebuah kereta menerobos masuk ke Baker Street dari arah Oxford Street.

Well, Watson, ada baiknya juga kita tak perlu keluyuran malam ini,” kata Holmes sambil menaruh kaca pembesarnya dan menggulung dokumen itu. “Kali ini cukup sampai di sini dulu aku membaca. Wah, capek mataku! Sejauh ini kesimpulanku adalah bahwa dokumen ini hanya berisikan catatan-catatan dari seseorang bernama Abbey yang berasal dari pertengahan abad kelima belas. 

Halloa! Halloa! Halloa! Apa ini?”

Di antara deru suara angin terdengar dencing sepatu kuda dan suara ban kereta yang direm dengan susah payah. Kereta yang tadi kulihat kini berhenti di depan tempat tinggal kami.

“Mau apa dia, ya?” kataku dengan kaget ketika seorang pria keluar dari kereta itu.

“Mau apa! Tentu saja mau bertemu dengan kita. Dan itu berarti, Watson yang malang, kita perlu memakai jas hujan, syal, sepatu bot—apa sajalah yang diperlukan untuk bepergian dalam cuaca seperti ini. Tapi, coba tunggu sebentar! Keretanya pergi! Untung bagi kita. Kalau kita harus pergi dengannya, bukankah kereta itu mestinya disuruh tunggu? Silakan turun ke lantai bawah, sobatku, dan bukakan pintu untuknya karena semua penghuni lantai bawah sudah tidur.”

Ketika lampu ruang depan kunyalakan, aku langsung mengenali tamu yang datang malam-malam ini. Dia adalah Detektif Stanley Hopkins yang masih muda dan yang kariernya cukup baik sehingga Holmes menaruh perhatian padanya.

“Apakah dia ada di rumah?” tanyanya dengan penuh semangat.

“Silakan naik, Sobat,” kata Holmes dari atas. 

“Semoga saja kau tak meminta kami pergi ke suatu tempat malam ini.”

Detektif itu menaiki tangga, jas hujannya berkilauan diterpa sinar lampu. Kubantu dia melepaskan jas hujannya, sementara Holmes melemparkan kayu ke perapian sehingga nyala apinya menjadi lebih besar.

“Nah, sobatku Hopkins, silakan mendekat kemari dan hangatkan kakimu,” katanya. “Ini ada cerutu, dan Dokter akan membuatkanmu air jeruk panas yang sangat baik diminum pada malam hari kalau cuacanya begini. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, sehingga kau memerlukan datang kemari dalam cuaca buruk begini.”

“Memang, Mr. Holmes. Sepanjang petang tadi, saya sibuk sekali. Sudahkah Anda membaca tentang kasus Yoxley pada surat kabar terbitan paling akhir?”

“Hari ini aku hanya membaca berita dari abad kelima belas. Tak lebih dari itu.”

Well, cuma satu paragraf, dan isi beritanya salah sama sekali, jadi Anda tak rugi apa-apa kalau tak membacanya. Tapi saya tak bisa membiarkan masalah ini begitu saja. Peristiwanya terjadi di Kent, sebelas kilometer jauhnya dari Chatham ditambah lima kilometer lagi dari stasiun kereta api. Saya menerima telegram pada jam tiga lima belas, dan saya tiba di Yoxley Old Place pada jam lima. Saya lalu melakukan penyelidikan, tiba kembali di Charing Cross dengan kereta api terakhir, lalu langsung menuju kemari naik kereta kuda.”

“Kukira itu berarti bahwa kasus ini tak begitu jelas bagimu?”

“Itu berarti saya tak tahu ujung pangkalnya. Masalahnya justru lebih ruwet setelah saya melakukan penyelidikan, padahal pada mulanya nampaknya sederhana saja sehingga siapa pun tak mungkin salah menyimpulkannya. Tak ada motif bagi pembunuhan itu, Mr. Holmes. Itulah yang mengganggu pikiran saya—saya tak melihat adanya motif. Ada seorang pria terbunuh—itu jelas—tapi sejauh pengamatan saya, tak ada alasan apa pun bagi seseorang untuk mencelakakannya.

10.Kaca Mata Berwarna Keemasan_