Serial Detektif Sherlock Holmes : Batu Delima Biru

Aku duduk di kursi berlengan, dan menghangatkan tanganku di depan perapian, karena salju tebal telah turun, dan jendela-jendela dipenuhi kristal salju. “Kukira,” komentarku, “topi itu, walaupun nampaknya biasa saja, berkaitan dengan suatu kisah tragis—dan dapat mengungkapkan sebuah misteri, sehingga kejahatan akan menerima ganjarannya.”

“Bukan, bukan kejahatan,” kata Sherlock Holmes sambil tertawa. “Hanya salah satu dari kejadian-kejadian aneh yang terjadi karena ada empat juta manusia yang tinggal berdesak-desakan di wilayah yang luasnya cuma beberapa kilometer persegi. Mereka melakukan aksi dan reaksi, maka peristiwa-peristiwanya jadi sangat bervariasi dan muncullah banyak masalah kecil yang aneh, tapi bukan kejahatan. Kita sudah pernah menangani hal seperti ini sebelumnya.”

“Betul juga,” komentarku. “Dari enam kasus terakhir yang sempat kucatat, tiga di antaranya benar-benar bukan kasus kejahatan resmi kan?”

“Persis. Kau menyinggung upaya-upayaku untuk mengambil kembali surat-surat Raja Bohemia yang dikirim kepada Irene Adler, kasus unik Miss Mary Sutherland, dan petualangan pria berbibir miring. Yah, aku yakin masalah kecil ini juga termasuk kategori yang sama. Kenalkah kau pada Peterson, petugas antar barang itu?”

“Ya.”

“Tanda kemenangan ini miliknya.”

“Maksudmu topi itu miliknya.”

“Tidak, tidak; dia yang menemukannya. Pemiliknya tak diketahui. Kumohon kau bersedia mengamatinya, bukan sebagai topi kumal biasa, tapi sebagai masalah intelektual. Dan, biar kujelaskan dulu bagaimana topi itu sampai kemari. Topi itu dibawa ke sini, berikut seekor bebek gemuk, tepat pada pagi hari Natal yang lalu. Aku yakin bebek itu kini sudah dipanggang oleh Peterson. Beginilah kisahnya. Kira-kira jam empat pagi pada hari Natal, Peterson yang sebagaimana kau tahu adalah orang yang sangat jujur, sedang dalam perjalanan pulang ke Tottenham Court Road setelah bersenang-senang semalaman. Seorang pria jangkung berjalan sempoyongan di depannya sambil menggendong seekor bebek putih di bahunya. Ketika dia sampai di ujung Goodge Street, terjadi pertengkaran antara pria ini dengan sekelompok pemuda berandalan. Salah satu dari mereka memukul topi pria itu, yang dibalasnya dengan mengacungkan tongkatnya untuk melindungi diri. Ketika dia mengayunkan tongkat itu di atas kepalanya, tongkat itu menghantam kaca toko di
belakangnya. Peterson berlari untuk menolongnya. tapi pria itu, yang menjadi terkejut karena telah memecahkan kaca toko milik orang lain, panik melihat seorang berseragam berlari ke arahnya. Dia langsung membuang bebeknya, melarikan diri, dan menyusup di antara gang-gang di belakang Tottenham Court Road.

Pemuda pemuda berandalan tadi pun semuanya melarikan diri melihat kedatangan Peterson, sehingga tinggallah dirinya di tempat bekas pertengkaran tadi, dan sebagai tanda kemenangan dia mendapatkan topi penyok ini dan bebek Natal yang tak bercacat itu.”

“Yang tentunya dikembalikannya kepada pemiliknya?’

“Sobat, itulah masalahnya. Memang ada kartu bertuliskan ‘Kepada Mrs. Henry Baker’ di kaki kiri angsa itu, dan ada singkatan H.B. dipinggiran topi ini, tapi karena ada ribuan orang yang namanya Baker, dan ratusan yang namanya Henry Baker di kota kita ini, tidaklah mudah untuk mengembalikan barang hilang kepada salah satu dari mereka.”

Batu Delima Biru