Serial Detektif Robert Langdon : The Da Vinci Code

Ruangan besar itu seperti meledak karena tawa riuh para hadirin.

Langdon memaksakan senyuman kaku. Dia tahu apa yang akan keluar setelah ini—kalimat-kalimat dungu tentang “Harrison Ford dalam jas wol keluaran Harris”—dan karena malam ini dia sudah kadung mengenakan jas Harris dan t-shirt berleher tinggi keluaran Burberry, dia memutuskan untuk segera bertindak.

“Terima kasih, Monique,” ujar Langdon, sambil berdiri sebelum waktunya, dan berjalan perlahan mendekati Monique di podium. “Boston Magazine benar-benar memiliki keahlian dalam menulis fiksi.” Dia menghadap ke hadirin dengan desah malu. “Dan jika saya tahu siapa di antara Anda yang memberikan artikel ini, saya akan meminta konsulat untuk mendeportasinya.”

Para hadirin tertawa lagi.

“Baiklah, kawan-kawan, seperti yang telah Anda ketahui, saya di sini malam ini untuk berbicara tentang kekuatan dari simbol-simbol…

Sambil mengerang tak percaya, dia mengangkat telepon itu.

Seperti yang telah diduganya, penelepon itu adalah penerima tamu tadi.

“Pak Langdon, kembali saya minta maaf. Saya menelepon untuk memberi tahu bahwa tamu Anda sedang menuju kamar Anda sekarang. Saya pikir saya harus memberi tahu Anda.”

Langdon sudah benar-benar terjaga sekarang. “Anda membiarkan orang datang ke kamar saya?”

“Saya mohon maaf, Monsieur, tetapi orang seperti beliau ini saya tak kuasa menghentikannya.”

“Siapa sebenarnya dia?”

Tetapi penerima tamu itu telah memutuskan hubungan.

Tak lama kemudian, sebuah kepalan tangan menggedor pintu kamar Langdon.

Dengan ragu, Langdon melorot turun dari ranjangnya, dan merasakan kedua kakinya tenggelam dalam permadani. Dia mengenakan mantel kamar mandinya dan melangkah ke arah pintu. “Siapa?”

“Pak Langdon? Saya perlu bicara dengan Anda.” Bahasa Inggris lelaki itu beraksen perintah yang sangat tegas. “Nama saya Letnan Jérome Collet. Direction Cepurtale Police Judiciaire.”

Langdon berhenti. Polisi Judisial? DCPJ kira-kira sama dengan FBI di Amerika.

Langdon membiarkan rantai pengaman pintu tetap menyangkut, kemudian membuka pintu beberapa inci. Wajah yang menatapnya itu tirus dan rusak. 

Lelaki itu sangat kurus, berpakaian seragam biru yang tampak resmi.

“Boleh masuk?” agen itu bertanya.

Langdon ragu-ragu. Dia merasa bimbang ketika mata agen itu menatapnya menyelidik. “Ada masalah apa?”

“Capitaine saya membutuhkan keahlian Anda untuk urusan pribadi.”

“Sekarang?” Langdon bertanya. “Tengah malam begini?”

“Betulkah Anda dijadwalkan bertemu dengan seorang kurator dari Museum Louvre malam ini?

Tiba-tiba Langdon merasa tak nyaman. Dia dan seorang kurator terhormat, Jacques Saunière, telah dijadwalkan untuk minum bersama setelah ceramahnya malam ini. Namun Saunière tak muncul. “Ya. Bagaimana Anda tahu?”

“Kami menemukan nama Anda dalam daily planner-nya.”

“Tidak ada masalah, bukan?”

Agen itu mendesah tak sabar, dan menyisipkan selembar foto Polaroid melalui celah sempit pintu itu.

Ketika Langdon melihat foto itu, seluruh tubuhnya menjadi kaku.

“Foto itu diambil kurang dari satu jam yang lalu. Di dalam Museum Louvre.”

Sementara Langdon menatap foto ganjil itu, reaksi pertamanya adalah kemarahan yang memuncak. “Siapa yang tega melakukan ini!”

“Kami harap Anda dapat membantu kami menjawab pertanyaan itu, mengingat keahlian Anda dan rencana Anda untuk bertemu dengannya.”

Langdon menatap foto itu. Kengeriannya sekarang bertambah dengan ketakutan. Gambar itu mengerikan dan betul-betul aneh, dan menimbulkan bayangan seperti sebuah deja vu yang merisaukan. Kira-kira setahun yang lalu, Langdon pernah menerima selembar foto mayat dan permintaan pertolongan yang sama, dan 24 jam kemudian dia hampir kehilangan nyawanya di dalam kota Vatikan. Foto ini sama sekali berbeda, namun skenarionya terasa sama.

The Da Vinci Code