Kisah Allah Akan Melindungi Kami

Aku adalah sahabat Rasulullah saw. yang paling dekat sejak beliau belum menerima tugas ini. Ketika beliau dipilih oleh Allah sebagai nabi, aku langsung percaya. Aku ingin bersama beliau di surga, sebagaimana di dunia ini.

Pada awal penyebaran Islam, orang-orang Mekkah sering menyiksa kaum Muslim. Karena hanya berjumlah sedikit, kami tak bisa membantu saudara-saudara sesama Muslim yang ditindas.

Suatu saat ketika kami tengah tertekan karena mendapatkan begitu banyak siksaan, aku memutuskan pergi ke negeri lain tempat aku bisa menjalankan Islam secara lebih baik dan lebih mudah. Tapi, aku belum memberitahu Rasulullah SAW. soal keputusanku itu.

Di antara penduduk Mekkah, aku punya seorang teman bernama Harits. Harits bukanlah Muslim, namun ia orang yang adil dan jujur. Ia tidak ikut menganiaya kaum Muslim. Ketika melihatku sangat sedih dan mengetahui aku akan pergi ke Abesinia, Harits memberikan penawaran, “Jangan pergi. Biarkan aku memberitahu orang-orang bahwa kau dalam perlindunganku.”

Gagasan itu membuatku senang. Harits menepati janjinya. Aku pun mulai membaca Al-Quran dan beribadah di halaman rumahku.

Setelah lama berselang, Harits menemuiku dan berkata, “Aku tak bisa lagi melindungimu. Terlalu banyak keluhan yang muncul.”

Aku gugup dan terkejut. Aku tidak pergi ke mana pun. Siapa yang mengeluh tentangku? Belakangan aku baru tahu, ketika tengah membaca Al-Qur’an, sejumlah orang diam-diam mendengarkanku. Beberapa bahkan terkesan, kemudian menjadi Muslim.

Aku memahami Harits. Betapapun baiknya ia, Harits tak bisa mengambil risiko membuat teman-temannya marah kepadanya. Aku berterima kasih kepadanya atas bantuan yang sudah diberikannya dan berkata, “Allah akan melindungi kami!”